Tertawa Sebagai Terapi Penyembuh

Ribuan tahun yang lalu seorang yang bijaksana bernama Solomon menulis beberapa pepatahnya yang begitu terkenal. Salah satu di antaranya dia menuliskan bahwa “hati yang riang gembira adalah obat mujarab tapi jiwa yang hancur mengeringkan tulang tulang.” Di zaman modern ada sebuah majalan yang paling populer yang pernah terbit di readers digest mempunyai artikel yang muncul tiap bulannya dimana salah satunya yang berjudul “tertawa obat paling mujarab”, lalu apakah ada bukti ilmiah untuk mendukung pernyataan bahwa ternyata tertawa memiliki kekuatan dan menggunakan tertawa sebagai terapi penyembuh di dalamnya? Jawabannya adalah Ya.

Tertawa Sebagai Terapi Penyembuh

Dalam beberapa tahun belakangan ini para ahli medis telah menemukan kekuatan penyembuhan yang dihasilkan dari tertawa dimana hal tersebut hampir merupakan sebuah keajaiban. Padahal penemuan tersebut tidak dibuat oleh seorang ahli kesehatan atau peneliti medis. Kisah ini diawali dari seorang pasien yang menolak untuk menerima perkiraan medis bahwa dirinya hanya bisa bertahan hidup dalam waktu beberapa bulan saja. Pasien tersebut bernama Norman Cousins seorang penulis Saturday review. Pada tahun 1964 Cousins di diagnosa telah menderita sebuah penyakit serius yang mencakup jaringan-jaringan penghubung dalam tubuhnya. Dia juga diberitahu oleh seorang spesialis bahwa kesempatannya untuk bisa bertahan adalah satu berbanding lima ratus dan hanya tinggal memiliki sedikit waktu. Namun keinginan Cousin untuk bertahan hidup sangatlah kuat, sehingga dia memutuskan untuk memikul sebagian besar tanggung jawab sebagai upaya untuk penyembuhan dirinya sendiri. Dia merancang sebuah program yang berisi aktifitas sehari-hari dari semua di dasari dengan emosi positif. Beberapa diantaranya adalah perjuangan, cinta, dan harapan. Cousin berkata bahwa hal-hal tersebut lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan satu hal lain yang dia yakin harus menjadi bagian dari program penyembuhan dirinya yakni tertawa sebagai terapi. Namun bagaimana anda bisa tertawa ketika anda diberitahu bahwa anda mengidap penyakit yang tidak dapat disembukan dan bahwa anda tidak memiliki waktu yang panjang untuk bertahan hidup?

Tapi ajaibnya dia betul-betul bisa tertawa. Cousins mengembangkan suatu sistem program untuk mendapatkan dosis harian untuk dapat tertawa dengan terbahak-bahak. Dia memulai dengan menonton acara TV Candid Camera lama yang diputar ulang. Kemudia dia pergi menonton film-film Marx Brothers dan lainnya, dimana semua film tersebut dapat dan bisa membuatnya tertawa. Selanjutnya ketika dia menuliskan pengalaman penyembuhan dirinya sendiri dalam anatormy of an illness (bagian tubuh sebuah penyakit) Cousins berkata bahwa sistem yang dijalaninya berhasil. Dia telah membuat sebuah penemuan yang menyenangkan, bahwa tertawa terbahak-bahak selama sepuluh menit mengandung efek anestetik (pembiusan) dan membuat dapat membuatnya bisa tidur lelap, bebas dari rasa sakit minimal selama dua jam. Tes medis yang dilakukan sejak saat itu telah membangun basis fisiologis bagi teori bahwa tertawa adalah obat yang mujarab dengan memanfaatkan tertawa sebagai terapi penyembuhan. Seperti yang dikatakan Josh Billing seorang humoris abad ke 19 bahwa tidak ada kesenangan dalam obat-obatan tapi ada banyak obat-obatan dalam kesenangan.

Artikel Terkait

About the Author: Triana Ambarwati S.Psi

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen + four =

WhatsApp chat WhatsApp Kami