Bersyukur Untuk Apa Yang Kita Miliki

Seringkah kita bersyukur untuk apa yang kita miliki ? Benjamin Franklin pernah mengatakan kalau kita tidak akan pernah menghargai nilai air sampai mata air telah mengering begitu juga dengan hal hal lainya. Mudah untuk menerima orang, benda , maupun kebebasan apa adanya, terutama jika kita selalu mendapatkanannya. Terkadang ketiadaan dapat menjadi guru paling baik. Seorang pilot terkenal pada perang dunia 1 pernah terdapar di lautan pasifik selama 21 hari sendirian di atas rakit. Ia berhasil bertahan hidup dan di kemudian hari ia ditanya apakah kejadian itu memerinya pelajaran tentang sesuatu. Ia mengatakan pelajaran terbaik yang saya dapatkan di pengalaman itu adalah jika anda mempunyai air bersih yang anda butuhkan dan makanan yang anda inginkan, maka seharusnya anda tidak perlu mengeluh tentang apapun. Sayangnya kita mengeluh tentang hal hal yang kecil dan remeh yang orang lain justru bahagia karenanya. Ia juga bisa menjadi suatu kebiasaan suatu cara hidup. Bukankah kita semua tahu paling tidak beberapa orang yang selalu mengeluh? Mereka tidak menyenangkan bukan?

Bersyukur Untuk Apa Yang Kita Miliki

Ada seseorang yang menuliskan pengalamannya tentang beberapa kelompok di sebuah daerah yang pergi ke meksiko setiap tahunnya untuk membantu rumah rumah kecil bagi orang orang miskin. Mereka selalu kembali dengan beberapa perspekstif baru tentang kehidupan. Mereka melihat betapa sulitnya kehidupan para petani meksiko yang serba kekurangan terutama hal hal yang kita anggap sebagai suatu kebutuhan. Mereka juga melihat betapa bersyukur dan gembiranya orang orang miskin tersebut dengan apa yang mereka miliki, sekecil apapun. Para siswa tersebut pulang ke rumah dengan perasaaan bahagia karena mereka telah membantu orang yang kurang beruntung. Tidak hanya itu mereka juga pulang ke rumah dengan perasaan lebih menghargai apa yang mereka miliki.

Sayangnya seringkali kita harus mengalami dahulu segala hal di dunia ini agar benar-benar memahami betapa beruntungnya kita. Sungguh menyedihkan karena ternyata kita kebal melihat orang orang yang kelaparan di negara lain maupun negara kita sendiri. Semuanya itu tidak memberikan pengaruh sampai kita melihat sendiri secara langsung. Ada sebuah artikel yang bercerita bahwa pada beberapa tahun yang lalu sepasang suami isteri dengan bus dari sebuah bandara menuju ke kota besar di bagian hongkong dan sudah banyak melihat gambaran kehidupan di cina tetapi pengalaman kali ini benar benar menggetarkan mereka. Karena itu dia menuliskan apa yang dia lihat dan rasakan dalam catatan harian bahkan kesulitan untuk harus mencari kata yang tepat. Karena dia melihat di sepanjang jalan banyak kesengsaraan dan kemiskinan. Hal tersebutlah yang kemudian membuatnya selalu bersyukur untuk apa yang kita miliki.

Artikel Terkait

About the Author: Triana Ambarwati S.Psi

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 3 =